
Jakarta – Konten ulasan kuliner semakin populer di berbagai platform media sosial. Banyak food influencer membagikan pengalaman mencicipi makanan sekaligus memberikan penilaian terhadap rasa, harga, pelayanan, hingga suasana restoran.
Konten semacam ini memang membantu calon pelanggan sebelum berkunjung ke suatu tempat makan. Namun di balik manfaatnya, ada sejumlah kebiasaan food influencer yang justru menuai kritik karena dianggap mengganggu atau mengurangi objektivitas ulasan.
Mengutip Times of India, berikut beberapa perilaku food influencer yang paling sering mendapat sorotan.
1. Terlalu Mudah Menyebut Tempat sebagai “Hidden Gem”
Istilah hidden gem awalnya digunakan untuk menggambarkan tempat yang berkualitas tetapi belum banyak diketahui orang.
Sayangnya, banyak kreator konten memakai istilah tersebut untuk restoran atau tempat makan yang sebenarnya sudah populer. Akibatnya, penonton merasa ekspektasi mereka tidak sesuai dengan kenyataan ketika berkunjung.
Penggunaan istilah yang berlebihan juga dinilai membuat makna “hidden gem” menjadi kurang relevan.
2. Reaksi yang Terlalu Dramatis
Ekspresi berlebihan saat mencicipi makanan juga sering menjadi bahan kritik.
Mulai dari wajah yang tampak terlalu terkejut, pujian yang berulang, hingga penggunaan kata-kata hiperbola dianggap membuat ulasan terasa dibuat-buat.
Sebagian penonton lebih menyukai review yang natural karena dinilai lebih jujur dan membantu dibandingkan reaksi yang terlalu dramatis demi menarik perhatian.
3. Meminta Makanan Gratis
Salah satu keluhan yang kerap disampaikan pemilik usaha kuliner adalah permintaan makanan gratis sebagai imbalan ulasan.
Praktik seperti ini dinilai kurang etis, terutama jika dilakukan kepada pelaku usaha kecil yang memiliki keterbatasan anggaran promosi.
Banyak orang berpendapat bahwa food influencer tetap sebaiknya membayar makanan yang mereka pesan agar ulasan yang diberikan lebih independen dan tidak terkesan memanfaatkan popularitas atau jumlah pengikut di media sosial.
4. Tidak Menyampaikan Ulasan Secara Jujur
Kepercayaan audiens menjadi modal utama seorang food influencer. Karena itu, ulasan yang tidak objektif sering kali memicu kekecewaan.
Sebagian kreator dinilai menutupi kekurangan makanan, pelayanan, atau kebersihan demi menjaga hubungan dengan pemilik usaha maupun kepentingan promosi.
Padahal, banyak orang menjadikan konten kuliner sebagai referensi sebelum memutuskan datang ke sebuah restoran. Ketika informasi yang diberikan tidak sesuai kenyataan, kepercayaan penonton pun bisa berkurang dan konten dianggap hanya menjadi bentuk iklan terselubung.
Kejujuran, transparansi, serta penilaian yang seimbang menjadi hal penting agar ulasan kuliner tetap bermanfaat bagi masyarakat sekaligus adil bagi pelaku usaha.
