
Jakarta – Bagi banyak orang, kopi menjadi minuman rutin untuk menemani aktivitas sehari-hari. Namun, bagi pemilik tekanan darah tinggi, konsumsi kafein sering menimbulkan pertanyaan: apakah kopi harus dihindari?
Jawabannya tidak sesederhana kopi selalu menaikkan tekanan darah. Respons tubuh terhadap kafein dapat berbeda-beda, terutama antara orang yang jarang minum kopi dan mereka yang sudah terbiasa mengonsumsinya.
Menurut ahli gizi sekaligus dokter diabetes Dr. Archana Batra, efek kafein turut dipengaruhi oleh kebiasaan minum kopi dan tingkat sensitivitas seseorang. Dikutip dari Hindustan Times, berikut hal yang perlu diketahui mengenai kopi dan tekanan darah.
1. Kafein dapat menaikkan tekanan darah untuk sementara
Kafein dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat. Efek ini biasanya lebih mudah terlihat pada orang yang tidak terbiasa minum kopi.
Mayo Clinic menjelaskan bahwa respons tersebut bersifat sementara. Sementara itu, orang yang rutin mengonsumsi kopi cenderung mengalami perubahan tekanan darah yang lebih kecil karena tubuh telah beradaptasi terhadap kafein.
Dr. Archana Batra menyebut peminum kopi rutin umumnya tidak mengalami kenaikan tekanan darah yang besar setelah minum kopi. Meski demikian, orang dengan hipertensi tetap perlu memperhatikan respons tubuh masing-masing.
2. Efeknya bisa mulai terasa sekitar 30 menit setelah minum
Kafein diserap tubuh relatif cepat. Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam Annals of Pharmacotherapy, perubahan tekanan darah dapat mulai terlihat sekitar setengah jam setelah kafein dikonsumsi.
Efek tersebut umumnya mencapai titik tertinggi dalam waktu sekitar satu hingga dua jam dan kemudian berangsur menurun. Dalam beberapa kondisi, pengaruhnya dapat bertahan hingga sekitar empat jam.
Karena itu, orang yang ingin memantau respons tubuh terhadap kopi sebaiknya memperhatikan waktu pengukuran tekanan darah. Hal ini terutama relevan bagi penderita hipertensi yang sedang menentukan seberapa banyak kafein yang dapat ditoleransi.
3. Jenis kopi bukan satu-satunya faktor yang menentukan
Pilihan kopi juga perlu diperhatikan, tetapi jumlah kafein yang masuk ke tubuh tetap menjadi pertimbangan utama. Kopi hitam umumnya memiliki kalori lebih rendah, sedangkan penambahan susu dapat meningkatkan kandungan nutrisi dan kalori minuman.
Bagi orang yang sensitif terhadap kafein atau merasa tekanan darahnya mudah meningkat setelah minum kopi, kopi dekafein dapat menjadi alternatif. Kandungan kafeinnya jauh lebih rendah dibandingkan kopi biasa sehingga efek stimulasinya juga lebih kecil.
Namun, toleransi setiap orang berbeda. Karena itu, pilihan minuman sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan respons tubuh.
4. Berapa banyak kopi yang masih tergolong aman?
Untuk orang dewasa sehat, FDA menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan tiga sampai empat cangkir kopi, meski kandungan kafein sebenarnya dapat berbeda berdasarkan jenis dan ukuran minuman.
Batas tersebut tidak otomatis berlaku sama bagi setiap orang. Ada individu yang lebih sensitif dan dapat mengalami jantung berdebar, sulit tidur, atau rasa cemas meski mengonsumsi kafein dalam jumlah lebih rendah.
Penderita hipertensi sebaiknya tidak hanya berpatokan pada jumlah cangkir. Riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, serta perubahan tekanan darah setelah minum kopi juga perlu dipertimbangkan.
5. Kopi juga dikaitkan dengan kesehatan jantung
Kopi tidak hanya diteliti dari sisi pengaruhnya terhadap tekanan darah. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara konsumsi kopi dalam jumlah moderat dan kesehatan kardiovaskular.
Sebuah studi dalam European Journal of Preventive Cardiology, misalnya, menemukan konsumsi sekitar dua sampai tiga cangkir kopi per hari berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.
Kopi mengandung berbagai senyawa bioaktif dan antioksidan yang diduga berkontribusi terhadap manfaat tersebut. Namun, hasil penelitian seperti ini menunjukkan hubungan dan tidak berarti kopi secara langsung mencegah penyakit jantung.
Jadi, penderita hipertensi tidak selalu harus berhenti minum kopi. Yang lebih penting adalah mengenali respons tubuh, memperhatikan jumlah kafein, serta menghindari tambahan gula atau krimer secara berlebihan.
Jika tekanan darah sering meningkat setelah mengonsumsi kopi atau terdapat hipertensi yang belum terkontrol, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan apakah kopi masih aman dikonsumsi dan berapa batas yang sesuai.
