
Jakarta – Kopi sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari banyak orang. Minuman ini kerap dikonsumsi untuk membantu tetap terjaga, meningkatkan konsentrasi, atau sekadar menemani aktivitas.
Namun, berbagai informasi mengenai kopi juga masih beredar di masyarakat. Beberapa di antaranya bahkan membuat orang khawatir untuk minum kopi secara rutin, seperti anggapan bahwa kopi dapat menyebabkan dehidrasi atau mengganggu sistem pencernaan.
Ada pula yang meyakini kopi dapat membakar lemak secara signifikan. Padahal, sejumlah penelitian telah memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efek kopi dan kafein terhadap tubuh.
Dilansir dari Coffee Health, berikut lima mitos kopi yang masih sering dipercaya beserta penjelasan ilmiahnya.
1. Kopi Menyebabkan Dehidrasi
Kopi sering dianggap dapat membuat tubuh kekurangan cairan karena memiliki efek diuretik dari kandungan kafeinnya.
Faktanya, konsumsi kopi dalam jumlah sedang tetap dapat memberikan kontribusi terhadap kebutuhan cairan harian. Lebih dari 95 persen kandungan kopi merupakan air.
Sejumlah penelitian bahkan tidak menemukan perbedaan status hidrasi yang berarti antara orang yang minum kopi dan mereka yang mengonsumsi air putih dalam jumlah yang sama.
Pada orang yang aktif secara fisik, konsumsi kopi dalam batas wajar juga tidak terbukti menyebabkan kehilangan cairan yang lebih besar.
2. Kopi Hanya Membuat Semangat karena Sugesti
Rasa lebih segar setelah menyeruput kopi terkadang dianggap hanya muncul akibat sugesti atau efek psikologis.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kafein memang memiliki efek terhadap sistem saraf dan dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, daya ingat, serta suasana hati.
Manfaatnya juga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Kopi berkafein diketahui dapat membantu meningkatkan performa olahraga, khususnya olahraga ketahanan seperti berlari, bersepeda, dan mendayung.
Beberapa penelitian turut menemukan bahwa kafein dapat membantu mengurangi rasa nyeri otot dan membuat aktivitas fisik terasa lebih ringan.
3. Kopi Decaf Tidak Punya Manfaat
Kopi tanpa kafein atau decaf kerap dianggap tidak memberikan manfaat karena tidak memiliki efek stimulan seperti kopi biasa.
Padahal, proses penghilangan kafein tidak serta-merta menghilangkan seluruh senyawa bermanfaat dalam kopi. Decaf masih mengandung polifenol, asam klorogenat, antioksidan, kalium, dan magnesium.
Polifenol memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan asupan polifenol dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit neurodegeneratif, termasuk Alzheimer. Konsumsi kopi tanpa kafein juga dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2.
4. Kopi Pasti Mengganggu Pencernaan
Sebagian orang menghindari kopi karena menganggap minuman tersebut selalu menyebabkan masalah pada lambung atau sistem pencernaan.
Padahal, dalam jumlah sedang, kopi justru dapat merangsang sejumlah proses yang berkaitan dengan pencernaan. Minuman ini dapat membantu merangsang produksi asam lambung, empedu, enzim pankreas, serta hormon pencernaan.
Berbagai komponen tersebut berperan dalam proses pemecahan makanan, termasuk pencernaan lemak.
Kopi juga mengandung polifenol dan serat yang diduga dapat mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus sehingga berpotensi memberikan manfaat bagi mikrobiota usus.
Meski demikian, efek kopi memang tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian individu mungkin lebih sensitif terhadap kopi dan mengalami keluhan pencernaan setelah mengonsumsinya.
5. Kopi Bisa Membakar Lemak dengan Cepat
Kopi sering dipilih oleh orang yang sedang menjalani diet karena dianggap mampu mempercepat pembakaran lemak.
Kenyataannya, kopi tidak dapat dianggap sebagai minuman pembakar lemak yang secara langsung membuat berat badan turun. Kopi hitam memang memiliki kalori yang rendah sehingga dapat menjadi pilihan minuman ketika membatasi asupan kalori.
Di sisi lain, kafein berpotensi meningkatkan metabolisme tubuh, meskipun efeknya relatif terbatas.
Hasil meta-analisis menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kafein dengan penurunan berat badan, indeks massa tubuh, dan lemak tubuh. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kopi saja dapat menjadi solusi penurunan berat badan.
Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi hasil, termasuk pola makan, faktor genetik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hingga penggunaan obat tertentu.
Tidak Semua Anggapan tentang Kopi Benar
Dari kelima mitos tersebut, terlihat bahwa efek kopi terhadap tubuh tidak sesederhana anggapan yang beredar. Kopi dalam jumlah wajar masih dapat menjadi bagian dari pola konsumsi yang sehat bagi banyak orang.
Kafein memang memiliki sejumlah efek terhadap tubuh, tetapi manfaat maupun responsnya dapat berbeda pada setiap individu. Karena itu, konsumsi kopi sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi dan toleransi masing-masing.
