Pernah nggak sih kamu merasa sudah belajar mati-matian buat ujian, tapi pas hasilnya keluar, ada mata pelajaran yang nilainya bikin elus dada sementara yang lain malah naik drastis? Nah, kira-kira itulah gambaran perasaan kita sebagai warga negara pas melihat hasil PISA 2025 yang baru saja dirilis. Ibarat lagi diet, berat badan kita mungkin turun di bagian lengan (membaca), tapi bagian perut (matematika) malah agak membandel.
Bagi yang belum tahu, PISA atau Programme for International Student Assessment itu ibarat "timbangan berat badan" buat sistem pendidikan di seluruh dunia. Penilaian ini nggak cuma nanya, "Berapa hasil dari 2+2?", tapi lebih ke "Gimana caranya kamu pakai logika buat memecahkan masalah di dunia nyata?". Penilaian ini menyasar siswa berusia 15 tahun—usia di mana mereka lagi galau-galaunya milih jurusan atau sekadar bingung mau makan apa pas jam istirahat.
Membaca dan Sains: Sinyal "Lampu Hijau" di Jalan Raya Pendidikan
Kabar baiknya, hasil PISA 2025 yang diumumkan pada 8 September 2026 di Gedung E, Kemendikdasmen, Jakarta, menunjukkan kalau "mesin" pendidikan kita mulai panas dengan arah yang benar. Skor membaca kita naik dari 359 poin (di tahun 2022) menjadi 365 poin. Begitu juga dengan sains yang naik dari 383 ke 389 poin.
Coba bayangkan pendidikan itu seperti lalu lintas di Jakarta saat jam pulang kantor. Dulu, jalannya macet total karena kita cuma bisa menghafal tanpa paham konteks. Sekarang, berkat kebijakan baru, "jalur lambat" itu sudah mulai punya lampu hijau yang lebih sinkron. Anak-anak kita mulai terbiasa memahami teks yang kompleks—bukan cuma membaca, tapi menangkap maksud di balik tulisan. Ini krusial banget di era hoaks yang bertebaran di media sosial. Kalau anak sudah bisa membaca dengan kritis, mereka nggak akan gampang kemakan judul clickbait yang menyesatkan.
Matematika: Kenapa Masih Jadi "Musuh Bebuyutan"?
Tapi, di tengah berita bahagia itu, ada si "anak nakal" bernama matematika. Skornya justru turun tipis dari 366 menjadi 364 poin. Kenapa ya? Padahal sudah pakai rumus, sudah pakai kalkulator, tapi tetap saja angkanya nggak mau diajak kompromi.
Sebenarnya, masalah matematika di Indonesia itu bukan soal anak kita "nggak pintar", tapi lebih ke arah "nggak akrab". Matematika sering dianggap sebagai bahasa asing yang kaku. Padahal, kalau kita lihat tren belajar mandiri di era digital sekarang, sebenarnya banyak sekali alat bantu yang bisa bikin matematika jadi asyik. Penurunan skor ini jadi sinyal kalau kita butuh cara baru buat "mendekati" matematika. Mungkin cara kita mengajar selama ini terlalu kaku, seperti mau memasak nasi goreng tapi instruksinya pakai bahasa pemrograman tingkat tinggi. Harus ada penyederhanaan supaya anak-anak nggak langsung ilfeel pas lihat angka.
PISA Bukan Ajang "Lomba Lari" antar Negara
Toni Toharudin, Kepala BKPDM Kemendikdasmen, bilang sesuatu yang sangat menohok tapi perlu kita renungkan bersama. Beliau menegaskan kalau PISA itu bukan ajang perlombaan siapa yang paling cepat sampai di garis finis.
"Keberhasilan kita bukan naiknya posisi Indonesia dalam peringkat PISA, melainkan semakin naiknya kemampuan murid kita dalam bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat," ujar Toni.
Coba bayangkan, kalau kamu ikut lomba lari maraton, menang atau kalah itu cuma soal medali. Tapi kalau kamu lari buat menjaga kesehatan jantung, hasilnya jauh lebih berharga buat masa depanmu. Begitu juga pendidikan. Kalau kita cuma mengejar angka, hasilnya cuma sekadar "pencitraan". Tapi kalau kita mengejar kemampuan bernalar, kita sedang mencetak generasi yang nggak gampang menyerah saat ketemu masalah hidup yang berat—seperti saat mereka harus menghadapi dunia kerja yang penuh dengan Artificial Intelligence (AI) dan ketidakpastian.
Strategi Baru: "Diet" Kurikulum yang Lebih Sehat
Pemerintah nggak tinggal diam, lho. Hasil PISA 2025 ini dijadikan "cek kesehatan" untuk menentukan langkah selanjutnya. Fokusnya bukan lagi nambah-nambah materi sampai buku pelajaran setebal bantal, tapi justru ke pembelajaran mendalam.
Strategi yang sedang digodok mencakup beberapa poin krusial:
- Penguatan Kompetensi Guru: Karena guru adalah "koki" di dapur kelas. Kalau kokinya jago, masakannya pasti enak.
- Literasi dan Numerasi: Memastikan anak nggak cuma tahu angka, tapi tahu gunanya angka tersebut dalam kehidupan sehari-hari (misal: menghitung diskon belanjaan atau mengatur uang saku).
- Coding dan AI: Ini yang paling menarik! Pemerintah mulai sadar kalau di masa depan, bahasa pemrograman bakal sama pentingnya dengan bahasa Inggris.
- Penjaminan Mutu Berbasis Data: Jadi, kebijakan nggak dibuat berdasarkan "katanya", tapi berdasarkan data lapangan yang nyata.
Mengapa Kita Harus Peduli dengan PISA?
Mungkin ada yang mikir, "Duh, ngapain sih bahas PISA? Itu kan urusan orang kantoran di Jakarta." Eits, tunggu dulu. Kamu ingat nggak pas zaman sekolah, ada teman yang pintar banget tapi cuma bisa hafal rumus, pas diajak debat malah bingung? Nah, PISA ini sebenarnya sedang mencoba menghapus tipe siswa yang seperti itu.
Dunia kerja di tahun 2030 atau 2040 nanti bakal butuh orang yang bisa beradaptasi. Mereka butuh orang yang bisa menghubungkan titik-titik informasi. Kalau kita cuma jago di matematika tapi nggak bisa membaca situasi, atau jago baca tapi nggak punya logika sains, kita bakal kalah saing sama robot. Jadi, naik-turunnya skor PISA ini sebenarnya adalah cerminan dari seberapa siap adik-adik kita nantinya bersaing di pasar global.
Tantangan Kedepan: Kolaborasi Lintas Sektor
Kemenangan pendidikan bukan milik satu kementerian saja. Kemendikdasmen dan Kemenag sudah sepakat untuk jalan bareng. Ini ibarat dua kapal besar yang berlayar di samudra yang sama; kalau satu kapal mogok, yang lain harus menariknya. Sinergi ini penting banget karena pendidikan di sekolah umum dan pendidikan berbasis agama di Indonesia itu dua pilar yang menopang masa depan jutaan anak.
Kita sebagai orang tua, kakak, atau bahkan sesama pelajar, juga punya peran. Tips mendukung pendidikan anak di rumah bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengajak diskusi tentang isu terkini atau sekadar membiarkan mereka bertanya "Kenapa?" sesering mungkin. Rasa ingin tahu itu adalah bahan bakar utama untuk meningkatkan skor literasi dan numerasi kita secara alami.
Kesimpulan: Jangan Panik, Tetap Evaluasi
Jadi, apakah kita harus sedih karena skor matematika turun? Jawabannya: nggak perlu panik, tapi harus segera berbenah. Angka itu cuma alat bantu. Yang paling penting adalah prosesnya. Kita sudah ada di jalur yang benar untuk perbaikan literasi dan sains. Sekarang, tinggal memutar kemudi sedikit untuk memperbaiki "kebocoran" di sektor matematika.
Kita punya potensi besar. Dengan kurikulum yang lebih fleksibel, dukungan terhadap AI, dan guru-guru yang makin kompeten, Indonesia punya peluang besar untuk tidak lagi sekadar menjadi "peserta penggembira" di level internasional.
Mari kita lihat PISA bukan sebagai momok yang menakutkan, melainkan sebagai cermin. Cermin yang jujur menunjukkan di mana kelebihan kita dan di mana titik yang harus kita poles lagi. Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan soal siapa yang paling cepat, tapi tentang siapa yang paling siap menghadapi dunia yang terus berubah ini.
Jadi, sudah siapkah kita mendukung perubahan ini? Jangan lupa, pendidikan itu perjalanan panjang, bukan sprint 100 meter. Tetap semangat, karena masa depan bangsa ada di tangan mereka yang terus belajar, terus bertanya, dan tak pernah berhenti bernalar!
