
Jakarta – Sebagian orang mengaku makanan terasa hambar setelah sembuh dari COVID-19. Ternyata kondisi tersebut bukan hanya perasaan semata. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada indra pengecap dapat bertahan hingga lebih dari satu tahun setelah infeksi.
Mengutip Food & Wine, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Chemical Senses menemukan bahwa perubahan pada sel pengecap di lidah menjadi salah satu penyebab utama hilangnya kemampuan merasakan makanan secara normal. Temuan ini menjelaskan mengapa sebagian penyintas COVID-19 masih mengalami perubahan rasa meski telah lama dinyatakan sembuh.
Gangguan Rasa Bisa Bertahan Lama
Pada masa awal pandemi, hilangnya kemampuan mencium aroma dan mengecap rasa menjadi gejala khas infeksi COVID-19. Bagi sebagian besar orang, fungsi tersebut kembali pulih seiring waktu. Namun, tidak semua pasien mengalami pemulihan sepenuhnya.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan mengamati 28 orang yang pernah terinfeksi COVID-19 tetapi tidak menjalani perawatan di rumah sakit. Meski infeksinya telah berlalu lebih dari satu tahun, mereka masih melaporkan gangguan pada indra pengecap.
Hasil pengujian menunjukkan delapan peserta memiliki fungsi pengecap yang tidak normal. Sementara itu, sebelas peserta mengalami kesulitan mengenali rasa tertentu, terutama rasa manis, pahit, dan umami. Sebaliknya, kemampuan mengecap rasa asin dan asam relatif masih terjaga pada sebagian besar responden.
Perubahan Terjadi pada Sel Pengecap
Peneliti menemukan adanya penurunan kadar messenger RNA (mRNA) pada sel pengecap lidah para peserta.
mRNA memiliki peran penting dalam membantu sel mengirimkan informasi mengenai rasa menuju otak. Ketika jumlahnya berkurang, sinyal yang diteruskan menjadi lebih lemah sehingga otak tidak menerima informasi rasa secara optimal.
“Zat ini bekerja seperti penguat sinyal di dalam sel perasa. Sinyalnya diperkuat sebelum dikirim ke otak. Kalau kadarnya menurun, sinyal rasanya juga jadi lebih lemah,” jelas Thomas Finger, PhD, profesor biologi sel dan perkembangan di University of Colorado Anschutz.
Selain perubahan pada mRNA, pemeriksaan biopsi juga memperlihatkan adanya perubahan struktur pada kuncup pengecap. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan tersebut memang terjadi pada jaringan lidah, bukan sekadar efek sementara setelah infeksi virus.
Tidak Semua Jenis Rasa Terdampak
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa COVID-19 tidak memengaruhi seluruh jenis rasa secara merata.
Rasa manis, pahit, dan umami menjadi yang paling sering mengalami gangguan, sedangkan rasa asin dan asam umumnya masih dapat dikenali dengan baik. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa setiap jenis reseptor rasa memiliki mekanisme kerja yang berbeda sehingga responsnya terhadap infeksi virus juga tidak sama.
Masih Membutuhkan Penelitian Lanjutan
Hingga kini belum tersedia terapi khusus untuk mengembalikan fungsi pengecap yang terganggu akibat COVID-19. Meski demikian, hasil penelitian ini menjadi langkah penting dalam memahami penyebab gangguan rasa yang berlangsung lama.
Dengan mengetahui perubahan biologis yang terjadi pada sel pengecap, para peneliti berharap dapat mengembangkan strategi pengobatan yang lebih efektif bagi penyintas COVID-19 yang masih mengalami hilangnya indra perasa.
