
Jakarta – Secangkir kopi dapat membantu meningkatkan energi dan konsentrasi. Namun, manfaat tersebut bisa terganggu jika kopi dikonsumsi secara berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat.
Bagi sebagian orang, minum kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ada yang menikmatinya pada pagi hari, menemani aktivitas di siang hari, hingga menjadikannya teman bekerja pada sore atau malam hari.
Padahal, kapan kopi diminum ternyata juga perlu diperhatikan. Waktu konsumsi yang tidak tepat dapat memberikan efek kurang nyaman, terutama terhadap sistem pencernaan, penyerapan nutrisi, hingga kualitas tidur.
Dikutip dari Food NDTV, sejumlah ahli kesehatan memberikan panduan mengenai kebiasaan minum kopi yang sebaiknya dihindari.
1. Jangan Minum Kopi Terlalu Banyak
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah jumlah kopi yang dikonsumsi dalam sehari. Kandungan kafein pada kopi bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat sehingga dapat membuat tubuh terasa lebih berenergi dan waspada.
Indian Council of Medical Research (ICMR) merekomendasikan agar konsumsi kafein tidak melebihi 300 miligram per hari atau kira-kira setara dengan tiga cangkir kopi berukuran sedang.
Kandungan kafein setiap jenis kopi pun berbeda. Secangkir kopi seduh berukuran 150 ml mengandung sekitar 80-120 mg kafein, sedangkan kopi instan umumnya memiliki sekitar 50-65 mg kafein.
Jika asupannya terlalu tinggi, kafein dapat menyebabkan sejumlah masalah, seperti gangguan tidur, rasa cemas, hingga ketergantungan terhadap kopi.
2. Jangan Jadikan Kopi sebagai Minuman Pertama Saat Bangun
Kebiasaan langsung menyeruput kopi setelah membuka mata ternyata kurang ideal. Terutama jika kopi diminum ketika perut belum terisi makanan.
Ahli Ayurveda, Dr. Dixa Bhavsar Savaliya, menyarankan agar kebiasaan tersebut dihindari. Salah satu alasannya berkaitan dengan hormon kortisol, yang memiliki peran dalam mengatur respons tubuh terhadap stres.
Konsumsi kopi ketika perut kosong disebut dapat memengaruhi respons kortisol. Pada sebagian orang, kondisi tersebut bisa membuat tubuh terasa lebih gelisah, lelah, atau kurang nyaman untuk memulai aktivitas.
Karena itu, kopi sebaiknya tidak dijadikan pengganti sarapan.
3. Beri Jeda dari Waktu Makan
Menikmati kopi bersamaan dengan makanan juga perlu diperhatikan. Kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi proses pencernaan sekaligus penyerapan beberapa nutrisi.
Kopi memiliki sifat asam dan dapat memengaruhi proses pencernaan. Ketika diminum bersamaan dengan makanan yang kaya protein, kondisi tersebut disebut dapat membuat proses pencernaan protein menjadi lebih sulit.
Selain itu, kandungan kafein juga dapat mengurangi penyerapan zat besi dari makanan.
Untuk menghindari efek tersebut, para ahli menyarankan memberikan jarak waktu antara konsumsi kopi dan waktu makan. Jeda sekitar satu jam sebelum atau sesudah makan dapat menjadi pilihan.
4. Jangan Ngopi Menjelang Waktu Tidur
Kebiasaan minum kopi pada sore hingga malam hari juga sebaiknya dikurangi, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kafein.
Dr. Savaliya menyarankan untuk menghindari kafein sekitar 6-10 jam sebelum tidur. Dengan demikian, orang yang biasanya tidur pada malam hari sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak mengonsumsi kopi terlalu sore.
Sebagai patokan, konsumsi kopi dapat dihentikan setelah sekitar pukul 16.00. Tujuannya agar efek stimulan kafein tidak mengganggu waktu dan kualitas tidur.
Tidur yang cukup penting untuk membantu tubuh melakukan berbagai proses pemulihan. Sebaliknya, terlalu banyak kafein menjelang malam dapat membuat seseorang lebih sulit mengantuk atau menyebabkan kualitas tidurnya menurun.
Pada dasarnya, kopi tetap dapat menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari. Minuman ini bahkan dapat membantu meningkatkan fokus dan energi. Namun, manfaatnya akan lebih optimal jika jumlah konsumsi serta waktunya diperhatikan.
Jadi, bukan berarti harus berhenti minum kopi. Yang lebih penting adalah menghindari konsumsi berlebihan, tidak meminumnya saat perut kosong, memberi jarak dengan waktu makan, dan membatasi kopi menjelang tidur.
